Mengenal Sertifikat tanah dan mengetahui Jenis – Jenisnya

Mengenal Sertifikat tanah dan mengetahui Jenis – Jenisnya

Untuk mendapatkan pengakuan yang sah dan kuat secara hukum atas kepemilikan sebuah lahan atau tanah, maka dibutuhkan bukti atau sertifikat Tanah atas tanah tersebut. Sementara pengertian Sertifikat Tanah sendiri adalah Surat Tanda Bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan.

Sertifikat tanah ini sendiri merupakan surat yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan merupakan dokumen penting negara. Sertifikat tanah ini juga merupakan dasar untuk melakukan transaksi jual beli. Tanpa adanya sertifikat, kepemilikian atas tanah akan berada dalam zona abu – abu.

Di Indonesia terdapat lima jenis sertifikat tanah yang di bagi sesuai jenisnya. Hal ini juga dibahas di dalam Undang – undang No.05 tahun 1960 tentang pokok – pokok Agraria. Yaitu :

  1. Sertifikat Hak Milik (SHM)

SHM atau Sertifikat Hak milik merupakan jenis sertifikat yang memiliki kuasa hukum yang paling kuat dan bisa berlaku tanpa batas waktu. Tanah dengan sertifikat SHM sebagai bukti dapat dijual atau diwariskan turun temurun. Ini bisa menjadi alat paling valid untuk melakukan transaksi jual beli maupun untuk Penjamin untuk kepentingan pembiayaan perbankan.

Namun demikian, Sertifikat Hak Milik ini sifatnya mengingat. SHM hanya dapat dimiliki oleh Warga Negara Indonesia (WNI)

  1. Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU)

Jenis yang kedua adalah sertifikat hak guna usaha. Ini merupakan hak untuk mengusahakan tanah yang di kuasai oleh negara dan biasanya memiliki janga waktu terbatas. Meskipun demikian, Sertifikat Hak Guna Usaha tetap dapat di anggap sebagai hak yang kuat sehingga pemiliknya bisa mempertahankan hak atas tanah tersebut dari gangguan pihak lain.

  1. Akta Jual Beli (AJB)

Daripada sertifikat, AJB sebenarnya lebih tepat jika di sebut sebagai Surat Perjanjian jual beli. Namun demikian, ini merupakan salah satu bukti pengalihan hak atas tanah yang sah. Biasanya prosesnya di dapat melakui sebab akibat dari transaksi Jual Beli. AJB bisa di buat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah saat proses pembelian.

  1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB)

Sesuai dengan namanya, sertifikat jenis ini adalah sertifikat yang hanya sebatas hak guna bangunan tanpa hak untuk memiliki. SHGB juga memiliki batas waktu dan wajib di perpanjang jika masanya telah berakhir. Berbeda dengan Sertifikat Hak Milik yang hanya untuk WNI, SHGB bisa di miliki oleh Warga Negara Asing.

  1. Girik (Tanah Adat)

Girik atau yang lebih di kenal dengan istilah Petok sebenarnya bukalah sertifikat. Ini lebih merupakan sebuah surat penguasaan atas lahan. Sertifikat ini biasanya di miliki oleh orang-orang di desa. Namun demikian, tetap di akui oleh pemerintah karena memang kebanyakan di desa merupakan tanah adat, turun temurun dan warisan.